Tampilkan postingan dengan label Me. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Me. Tampilkan semua postingan

15 November 2008

ARTI SEBUAH NAMA


Hari ini aku ingin bercerita tentang namaku yang aneh tapi bangga memilikinya. Hal yang menjadi kotroversi di kalangan rekan-rekan media dan sesama artis. Banyak sekali orang yang bilang “kok namanya kayak nama perempuan sich?”, “Namanya aneh banget kayak nama orang bali? Dari Bali ya?”. Bali? Kesana saja aku belum pernah, boro-boro mau Brojol disana.
Pernah suatu ketika aku harus periksa kesehatan untuk syarat masuk Prodip I STAN. Seperti pasien kelas bawah lainnya aku ngantri untuk mengambil kartu pendaftaran. Hampir setengah jam mengantri dan akhirnya aku sampai di depan loket.
“Sudah pernah berobat disini?” Tanya petugas loket.
“Belum pak!” Jawabku ramah.
“Nama?” Tanya pak petugas.
“Geka ?” Ujar ku
“Ooo!” kata pak petugas sambil mengangguk. Entah mengangguk tanda mengerti atau memang kepalanya tengleng, yang ditulisnya hanya huruf ‘J’ dan ‘K’ kok namannya pakek inisial segala? J,K ? Joko Kasmaran? Ato Jojon Katrok? Wah salah tulis nih bapak.

“Pak Bukan J pak tapi G! G… Gatel… Garuk… Gaplek…” aku mencoba mencari kata-kata berimbuhan G untuk memperjelas namaku.
“Oh GK..” kata pak petugas.
GK? Gunung Kidul? Gajah Keseleo? Waduh dodol ni orang, SD nya 9 tahun kali ya!
“Pak, Geka pak!” tukasku.
“Iya Ini Geka” jawab pak petugas loket yang mulai kesal karena merasa dipermainkan.
“Iya tapi tulisannya masih salah!” aku pun mulai ngotot, masalah harga dini nich.
“Nih tulis sendiri!” Pak Petugas itu memberikan kartu berobat warna merah menyala.
Kemudian ku isikan nama lengkapku “GEKA ARISSTA” dengan S dobel supaya hurufnya pas sebelas. Tapi kenapa harus sebelas? Yah katanya sih kalo dipisahin sebelas itu jadi satu dan satu trus kalo dijumlahin jadi dua (1+1=2). Tolong gak usah ditanya kenapa harus dua karena aku bakalan bilang kalo dua itu bakalan jadi satu kalo dikurangin satu yang lain (2-1=1). Intinya aku juga gak tau kenapa harus sebelas.
Setelah semua data pribadi diisikan, aku menyerahkan kembali kartu pendaftaran itu. Kemudian sang petugas mencatat nama ku dengan dua ‘S’ tadi beserta data pribadi lainnya.
“Mas yang sakit mana?” Tanya pak petugas sambil melihat kesekelilingku.
“ Bukan sakit pak, Saya yang mau periksa kesehatan!” jawabku.
“Geka itu anda tho?” ujar sang petugas terlihat bingun.
“Kirain Geka itu Perempuan, Makanya kartu nya Merah” gumam sang petugas.
Pak Petugas loket kemudian mengeluarkan kartu warna biru untuk pasien pria. Dengan sedikit males-malesan ia menyalin ulang data pribadiku ke kertas biru itu.
“Gak usah diganti pak! biar aja. Sapa tau ada dokter bedah kelamin yang lagi nganggur, saya pengen bedah jadi perempuan sekalian!” ucapku sambil mengambil kartu berwarna merah itu dan beranjak pergi.
Lalu bagaimana aku bisa dinamakan GEKA ARISSTA. Menurut penuturan saksi kunci yang sekaligus merangkap sebagai ayahku, saat itu telah terjadi tragedi berdarah dirumahku.
Pagi itu ayah sedang bersiap-siap berangkat ke kantor. Beliau menyiapkan semuanya sendiri karena istrinya sedang tergolek lemas akibat sedang mengandung aku. Usai mandi, gosok gigi, pakai baju, sebagai sentuhan terakhir ia mencukur jenggotnya.
Saat itulah tragedi berdarah itu terjadi. Pisau cukur itu melukai wajahnya, itu terjadi karena ayah melamun memikirkan nama yang tepat buatku. Dengan darah itupula beliau menuliskan nama pada cermin yang berada tepat di didepannya saat itu.
Kemudian beliau bergumam “ Akan ku beri nama Anakku GEKA ARISSTA” terbayang olehnya saat dia angkat aku dan di tunjunjukkanya pada seiisi hutan. Seluruh pernghuni hutan bersorak menyambut sang pangeran baru. Raja hutan mereka?? Kok kayak film Lion King? Ah gak usah dipikirin. Lanjut…
Menurut penuturannya. GEKA itu dari kata giga yang dalam bahasa Yunani berarti Satu Milyar dan ARISSTA berasal dari bahasa Sanksekerta yaitu Seunurissta yang artinya harapan. Kalo namanya giga seunurissta kayaknya gak cocok dengan lidah orang Indonesia yang terbiasa mengucap Ghetuk sama Temphe dari pada Keju. Makanya sedikit di Indonesiakan akhirnya terciptalah kata GEKA ARISSTA yang kalau di artikan sebagai Beribu-ribu harapan keluarga di emban olehku.
Banyak orang bilang apalah arti sebuah nama. Bagiku arti sebuah nama adalah Harga Mati. Karena nama adalah ribuan doa orang tua kita yang disarikan menjadi nama kita. Nama juga merupakan jati diri kita dalam masyarakat. Kalau kita baik maka baik pula nama itu begitu juga sebaliknya kalau kita buruk maka buruk pula nama kita di masyarakat. Memang ada orang yang mau namanya sama dengan nama mahluk-mahluk lain yang berkaki empat? Gak kebayang kalo orang udah ganteng, tinggi, pinter, baik, eh waktu kenalan namanya Kepiting, kecoak, atau trenggiling. Kan mendingan meski wajah jelek, pendek, hitam, meski hidup tapi kalo kenalan di telpon namanya Muhammad Khadafi. Bisa naik juga tu pamor, tapi ya kalo bisa tetep telpon-telponan aja gak usah ketemuan. Kalo ketemuan yang pamornya turun lagi.
Banyak temen-temen sesama selebritis yang rela merubah namanya hanya supaya namanya bisa memebawa hoki pada pekerjaanya. Pokoknya nama adalah segalanya, sesuatu yang harus dijaga keluhurannya.

---ggg---
Selengkapnya...

24 Maret 2008

makna kebebasan bagi sang katak di dalam tempurung




Ada yang pernah membayangkan rasanya terkurung dalam penjara pengap yang hanya cukup untuk dirimu sendiri? Sungguh sangat menyedihkan, rasa sesak itu akan terasa hingga ke dadamu, nafasmu akan terasa tersengal seolah-olah tersumbat sesuatu. hingga darahmu tidak bisa mengalir kemana-mana. Mungkin itulah yang dirasakan oleh sang katak ketika terperangkap dalam sebuah kerangkeng dari tempurung.

Tapi yang ingin aku bicarakan saat ini bukan itu, bukan juga tentang bagaimana bodohnya sang katak hingga bisa terperangkap dalam tempurung untuk seumur hidupnya. Tetapi tentang bagaimana sang katak memaknai kebebasan yang hanya bisa jadi angan-angan baginya.

Sekarang bayangkan jika kita menjadi sang katak yang hanya bisa melihat mewahnya kebebasan dari angin dan awan yang saat itu kebetulan lewat di atasnya. Dan kita sebagai katak hanya bisa mencemburui sang Elang yang bebas terbang menembus awan. Betapa kebebasan itu menjadi suatu yang berharga yang seharusnya ia miliki. Demi sebuah kebebasan, dia rela untuk menukar segalanya bahkan nyawanya sendiri. Sekarang katakan siapa yang lebih menghargai sebuah arti kebebasan selain sang katak yang terkurung dalam tempurung itu?

Artinya, terkadang seseorang mengabaikan sesuatu yang dia miliki padahal orang lain begitu mengharapkannya. Bahkan orang lain terkadang rela melakukan apa saja untuk memiliki apa yang telah kita miliki tanpa bersusah payah. Kita malah lebih sibuk merebutkan sesuatu yang tak lebih berharga dari kebebasan dan kehidupan yang tenang.


Selengkapnya...

22 Maret 2008

gunting alis kayak beruk, belajar nulis yuk!!



Assalamualaikum.....

Salam kenal buat yang pertama. Seneng banget bisa nulis lagi, karena sebenernya aku seneng banget nulis. Tapi masalahnya aku nggak pernah bisa nyelesain apa yang udah aku mulai. Dan sekarang aku mo nyoba lagi buat nulis apa aja yang aku tau tentang hidup, pengalaman pribadi, ato juga pengalaman orang laen.
Pernah liat orang di sebelah ini? dia yang mengen-mengenin aku buat nulis lagi. Hari ini aku ama dia ngelembur di kantor udah hampir 3 hari on stop. Trus sorenya aku ngenet ama dia n liat blognya dia, jadi pengen buat blog lagi dech. Trus, ngecek2, kuputuskan buat blog yang kayak gini.
Ternyata buat masuk koran itu gak selalu harus dengan kekerasan (ngerampok, nyolong, nyopet, ngebunuh. red). Ternyata dengan buat blog bisa masuk koran, kayak kayak orang yang fotonya ada di samping ini. Gak tau gimana blognya bisa masuk koran, padahal blognya gak bagus2 amat. cuma agak keren dikit.
Mungkin temen2 yang udah lama buat blog udah tau TSK di foto ini. dia dah lama kok punya blog, namanya "WAHYU-UDDIN" orang sich sering manggil dia wahyu kayaknya aku lebih suka manggil dengan nama Udin aja. Lebih akrab gitu.
BTW, makasih ya mas Udin atas infonya!!
Selengkapnya...