
Jika dibandingkan dengan kejadian di akhir tahun kemarin dimana aku dihadapkan pada kemungkinan pinda ke palembang atau tetap di Priok, keinginanku bulat ingin pulang ke Palembang untuk berkumpul bersama keluargaku. Tapi sekarang mengapa pilihan itu menjadi begitu berat. Apakah karena keinginanku bersama keluarga menjadi berkurang? atau karena menjadi fungsional auditor begitu menggiurkan? sampai saat ini aku tidak tau jawabannya.
Masalah keinginanku menjadi fungsional auditor ini tentunya telah aku bicarakan dengan keluargaku terutama istri. Dan pada dasarnya dia bisa memahami dan mendukungku menjadi auditor. Dia juga berargumen bahwa auditor itu waktunya lebih senggang dibandingkan pegawai bea cukai yang lain. Jadi bisa pulang ke Palembang sewaktu waktu untuk menjenguk mereka. Ada rasa salut dan bangga memiliki istri yang bisa memahami keinginan sang suami. Meskipun sebagai perempuan ia tidak bisa menampik keinginannya yang besar untuk dapat terus berkumpul bersama. Buatku pribadi pendapat istriku ini justru membuatku semakin bimbang untuk memilih. Dan akhirnya aku putuskan untuk ikut mendaftar sebagai fungsional auditor lalu biarkan Allah memilihkan yang terbaik untuk ku. Tetap di Palembang atau ikut ke Jakarta menjadi fungsional auditor.
Update: Akhirnya takdirpun terjawab, ternyata kemarin skep mutasi fungsional auditor keluar. Dan Allah memilihkan jalan untukku agar tetap tinggal di Palembang menemani istriku yang sedang hamil. Aku sangat yakin ini yang terbaik untukku saat ini. Namun di penghujung tahun ini sepertinya akan ada kegalauan tahap ke tiga. Akan ada Open Bidding untuk fungsional auditor yang belum keangkut di skep sekarang. Tapi masalah itu akan aku fikirkan nanti saja. Yang penting saat ini aku masih bisa menikmati kebahagiaan ku bersama keluarga tercinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar